Teknologi dan Budidaya Sayuran Secara Vertikultur

Teknologi dan Budidaya Sayuran Secara Vertikultur– Sayuran saat ini banyak sekali dijumpai di pasar tradisional ataupun modern. Sayuran adalah semua jenis tanaman yang dapat dimakan, mulai dari akar, batang, daun, biji, bunga atau bagian lain yang digunakan untuk diolah menjadi masakan. Ada juga yang menyebutkan jika sayuran adalah istilah umum yang digunakan untuk makanan dari tanaman yang biasanya mengandung kadar air tinggi, bisa dikonsumsi saat masih segar atau setelah diproses minimal.

Sayauran bisa dibudidayakan diberagam daerah atau tempat. Mulai dataran tinggi sampai dataran rendah. Jenis sayuran yang bisa dibudidayakan di dataran tinggi yaitu wortel, lobak, brokoli, kentang dan sebagainya. Jenis sayuran yang bisa dibudidayakan di dataran rendah seperti bawang merah, oyong dan masih banyak lainnya.

 

 

 

Budidaya Sayuran Secara Vertikultur

 

Budidaya Sayuran Secara Vertikultur

 

Saat ini, sayuran menjadi komoditas utama yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia, untuk dikonsumsi. Kebutuhan sayuran menjadi meningkat seiring dengan bertambahnya populasi, sedangkan ketersediaan lahan semakin terbatas, sehingga kebutuhan sayuran sulit untuk dipenuhi. Nah, teman-teman untuk mengatasi hal tersebut, salah satu upaya yang bisa dilakukan yaitu menanam sayuran dengan sistem vertikultur.

Sistem vertikultur adalah sistem budidaya pertanian yang dilakukan secara vertikal atau bertingkat, dengan hal ini kita bisa meminimalisir lahan yang sempit menjadi lahan penghasil sayuran yang berlimpah. Sistem vertikultur sangat cocok untuk  kalian yang suka bercocoktanam tetapi lahan yang kalian miliki sempit.

Keuntungan dari sistem pertanian vertikultur yaitu

1) Lahan yang digunakan bisa sangat minim tetapi bisa menghasilkan.

(2) Penghematan penggunaan pupuk dan pestisida.

(3) Kemungkinan tumbuh rumput dan gulma kecil,

(4) Bisa dipindah dengan mudah,

(5) Memfasilitasi pemantauan / pemeliharaan pabrik.

Tahukah kalian, jika banyak sekali jenis tanaman yang dapat ditanam secara vertikal. Bukan hanya komoditas sayuran tetapi tanaman hias atau tanaman obat bisa ditanam menggunakan sistem ini. Komoditas sayuran meliputi: sawi, bayam, pakcoi, kangkung, caisim, basil, seledri, selada dan daun bawang.

 

Media tanam

 

 

Media Tanam

 

Media tanam yang dipakai yaitu campuran tanah, kompos, dan sekam dengan perbandingan 1: 1: 1. Setelah semua bahan dikumpulkan, bahan dicampur hingga merata. Fungsi sekam yaitu untuk menahan air di tanah, sedangkan kompos menjamin ketersediaan bahan penting yang akan dipecah menjadi nutrisi yang dibutuhkan oleh tanaman.

Masukkan media tanam ke tempat yang telah disiapkan.

Media tanam dalam pot / paralon / bambu dicoba agar tidak terlalu padat sehingga air mudah mengalir, sehingga akar tanaman tidak kesulitan “bernafas”, dan tidak terlalu renggang sehingga ada keleluasaan dalam menjaga air. dan menjaga kelembaban.

 

Penyemaian dan Penanaman

Selanjutnya hal yang dilakukan yaitu peyemaian dan penanaman. Dalam proses vertikultur kita bisa memanfaatkan tanaman berjenis kangkung dan bayam. Benih dapat langsung ditanam di media tanam. Untuk jenis sayuran jenis cabai, terong, paprika, tanaman biji sesawi harus disemai terlebih dahulu, jika memindahkan benih ke media tanam harus sangat hati-hati, usahakan agar tanah tetap melekat pada akar tanaman supaya tidak mati. Perhatikan waktu penanaman, tanam sayuran pada sore atau dini hari dengan merendam tanaman ke dalam akar akarnya.

 

Pemeliharaan

  • Penyiraman dilakukan 2 (dua) kali sehari, yaitu pada pagi dan sore hari
  • Penanaman dilakukan jika ada tanaman mati
  • Jika tanaman kurang subur, tambahkan pupuk kandang atau kompos
  • Pengendalian hama harus dilakukan secara konvensional / mekanis dengan memindahkan atau memotong tanaman yang terserang hama penyakit.

 

Pemanenan

Bagian terakhir yang dilakukan yaitu pemanenan. Panen sayuran umumnya dilakukan dengan menghilangkan akar (sawi, bayam, seledri, selasih, selada, kangkung dan sebagainya). Jika kita mempunyai tanaman sendiri dan dikonsumsi sendiri, itu akan menghemat lebih banyak biaya dalam memanen daunnya. Dengan cara ini sayuran bisa bertahan lebih lama, bisa dipanen berulang kali dan lebih hemat.

 

 

Teknologi dan Budidaya Sayuran Secara Vertikultur

 

Teknologi Tanaman Sayuran Secara Vertikultur

 

Istilah vertikultur berasal dari bahasa Inggris yang berarti bercocok tanam di ruang atau lahan yang sempit. Vertikultur memanfaatkan lahan vertikal dan budidaya, sehingga vertikultur adalah sistem budidaya pertanian yang dilakukan secara vertikal atau bertingkat, baik indoor maupun di outdorr. Sistem vertikal atau bertingkat ini merupakan konsep reboisasi yang cocok untuk daerah perkotaan dan yang hanya memiliki lahan yang terbatas. Misalnya, 1 m lahan mungkin hanya bisa digunakan untuk menanam 5 tanaman saja, tetapi dengan sistem vertikal kita bisa membuatnya menjadi 20 tanaman.

Menanam dengan jenis ini bukan hanya taman vertikal saja, tetapi untuk meningkatkan minat seseorang untuk bercocok tanam dan bisa memanfaatkan lahan yang sempit menjadi berguna, dengan struktur vertikal, memudahkan pengguna untuk membuat dan memelihara tanaman.

Model, bahan, ukuran, dan wadah vertikultur sangat beragam, hanya saja kita bisa  menyesuaikan dengan kondisi dan keinginan. Biasanya berbentuk persegi panjang, segitiga, atau berbentuk layaknya tangga atau para-para (dengan beberapa anak tangga atau sejumlah rak). Bahan yang bisa digunakan yaitu pipa bambu atau paralon, kaleng bekas, dan karung beras. Mengapa demikia, karena salah satu filosofi vertikultural adalah menggunakan benda bekas di sekitar kita.

Dalam proses pembuatan vertikultur bahan dan hasil harus dibuat kuat dan mudah dipindahkan. Tanamanpun harus disesuaikan dengan kebutuhannya dan memiliki nilai ekonomi tinggi, umur pendek, dan akar pendek. Tanaman sayuran yang sering dibudidayakan secara vertikal yaitu selada, kangkung, bayam, pokcoy, caisin, basil, tomat, pare, kacang panjang, mentimun dan tanaman sayuran berdaun lainnya. Jika untuk tujuan komersial, pengembangan vertikultur perlu dipertimbangkan secara ekonomis sehingga biaya produksi tidak melebihi pendapatan dari penjualan tanaman, karena jika tidak dipertimbangkan kita bisa merugi. Sedangkan jika untuk pecinta vertikultur, kita dapat menggunakanya sebagai media kreativitas dan mendapatkan tanaman yang sehat dan berkualitas.

 

 

Pembuatan Wadah Tanam Vertikultur

 

 

Pembuatan Wadah Tanam Vertikultur

Contoh wadah tanam yang dibuat hanya dari dua buah paralon dengan cara pembuatan wadah tanam vertikultur sebagai berikut:

  1. Paralon, panjangnya masing-masing 120 cm, dengan distribusi 100 cm untuk wadah tanam dan sisanya 20 cm untuk penanaman ke tanah.
  2. Setiap lubang paralon dibuat dalam 10 bagian.
  3. Paralon dipilih dengan diameter besar, kemudian dipotong sesuai dengan ukuran yang ditentukan.
  4. Lubangi paralon sepanjang 100 cm per bagiannya, menggunakan bor listrik atau juga bisa menggunakan alat lain.
  5. Lubang dibuat bergantian di keempat sisi paralon (kaitkan permukaan paralon dengan kotak kotak).
  6. Pada 2 sisinya, dibuat saling berhadapan ada tiga lubang tanam, di dua sisi lainnya setiap lubang tanam, sehingga 10 lubang tanam akan diperoleh secara keseluruhan.
  7. Setiap lubang berdiameter sekitar 1,5 cm, sedangkan jarak antara lubang adalah 30 cm.

Semoga artikel ini bermanfaat untuk pembaca.

Jika ingin mendapatkan info lainnya, silahkan kunjungi Fauna.co.id

Salam Fauna!