Tips Sukses Budidaya Jamur Tiram

Tips Sukses Budidaya Jamur Tiram Jamur tiram atau bahasa latinnya Pleurotus ostreatus adalah salah satu jenis jamur yang bisa dikonsumsi dari kelompok Basidiomycota dan termasuk kelas Homobasidiomycetes. Jamur ini berciri-ciri umum tubuh buah berwarna putih hingga krem dan tudungnya berbentuk setengah lingkaran mirip cangkang tiram dengan bagian tengah agak cekung.

Pertumbuhan jamur  tiram biasanya di alam bebas. Jamur tiram bisa dijumpai hampir sepanjang tahun di hutan pegunungan daerah yang sejuk. Biasanya jamur ini tumbuh di permukaan batang pohon yang sudah melapuk atau pokok batang pohon yang sudah ditebang. Hal ini bisa terjadi karena jamur tiram adalah salah satu jenis jamur kayu.

Secara umum, jamur tiram ini membutuhkan serbuk gergaji untuk jamur yang dibudidayakan secara modern untuk media utama yang dicampur dengan elemen tambahan. Komposisi utama tanam jamur tiram dipakai terdiri dari serbuk gergaji, dedak halus, kapur, kapur, TSP, gips, dan air.

Mari kita bahas peran masing-masing bahan tersebut ;

  1. Dedak haluss. Desak menjadi sumber karbohidrat, sumber karbon dan nitrogen, juga sebagai sumber vitamin B kompleks.
  2. Kapur. Peran kapur disini untuk menetralkan pH media dan mencegah keberadaan pengganggu.
  3. TSP, penyedia elemen fosfor.
  4. Gips, penyedia elemen Ca dan memperkuat media tanam.
  5. Air, yang menjadi sumber nutrisi dan bahan media pencampuran.

Untuk proses pemeliharaan jamur tiram sangat praktis dan sederhana. Kalian hanya perlu menciptakan dan memelihara kondisi budidaya dan memenuhi persyaratan pertumbuhan jamur tiram.

Nah sahabat fauna, kalian bisa memperhatikan langkah-langkah pemeliharaan atau penanaman jamur tiram;

  • Persiapan Sarana Produksi

 

bangunan

 

  • Bangunan

Hal utama yang perlu diperhatikan, bangunan jamur sederhana bisa dibuat dari bingkai kayu atau bambu dengan atap jerami, anyaman bambu atau anyaman jerami. Ukuran bangunan yang ideal adalah 84 meter persegi (panjang 12 m dan lebar 7 m) dan tinggi 3,5 m. Bentuk bangunan bisa bervariasi, bisa menyerupai kereta atau seperti rumah. Secara umum, kamar atau jamur bangunan terdiri dari beberapa kamar lagi, termasuk:

 

  • Ruang persiapan

Ruang persiapan ini berfungsi sebagai ruang untuk melakukan kegiatan pengayakan, pencampuran, pewadahan, dan sterilisasi.

  • Ruang Inokulasi

Dibagian ini berfungsi untuk menanam pada media tanam, ruangan ini harus di desain untuk mudah dibersihkan supaya tidak banyak kontaminasi dari hal lain yang berbahaya.

  • Ruang Inkubasi

Ruangan ini berfungsi untuk menumbuhkan jamur di media tanam yang telah diinokulasi (spawning). Dalam ruangan ini, suhunya diatur dari 22-28 c dengan kelembaban 60-80%. Selain itu ruangan ini juga dilengkapi dengan rak inkubasi untuk menempatkan media tanam dalam kantong plastik yang telah diinokulasi.

  • Ruang Tanam

Ruangan yang satu ini berfungsi untuk menanam jamur. Ruangan ini juga dilengkapi dengan rak penanaman dan penyemprot. Fungsi fogging adalah untuk menyiram dan mengatur suhu pada kondisi optimal 16-22 c dengan kelembaban 80-90%.

 

 

  • Peralatan

Dalam hal ini, peralatan yang digunakan dalam budidaya jamur yaitu mixer, cangkul, sekop, pengisi, botol, ketel, gerobak, sesendok biji, centong.

 

 

bahan

 

  • Bahan

Bagian selanjutnya yang perlu diperhatikan yaitu bahan. Bahan yang dipakai dalam budidaya jamur tiram adalah serbuk kayu, dedak, kapur, gips, tepung jagung, glukosa, kantong plastik, karet, kapas, dan cincin plastik.

 

Persiapan Bahan

 

  • Persiapan Bahan

Ketika bahan-bahan tadi sudah disiapkan termasuk serbuk kayu, dedak, kapur, gips, tepung jagung, dan glukosa. Kalian bisa langsung memformulasi serbuk kayu, tepung jagung, bekatul, gypsum, kapur.

  • I 100 – 15 1 5
  • II 100 5 5 0.5 2.5
  • III 100 10 10 0.5 2.5
  • IV 100 10 10 1 5
  • Pengayakan

Bahan yang perlu di ayak yaitu serbuk kayu. Serbuk kayu didapat dari penggergajian yang memiliki tingkat keseragaman yang buruk. Hal ini menyebabkan tingkat pertumbuhan miselia menjadi tidak rata dan buruk. Untuk mengatasinya, serbuk kayu perlu diayak. Ukuran ayakan sama dengan untuk ayakan pasir.

Saat melakukan proses pengayakan kita perlu memerhatikan kesehatan kita dengan cara menggunakan masker, hal ini sangat dibutuhkan karena dapat membantu kita untuk terhindar dari dalam serbuk gergaji dicampur dengan banyak debu dan pasir.

 

Pencampuran

 

  • Pencampuran

Bahan-bahan yang sudah disiapkan tadi ditimbang sesuai dengan kebutuhan. Kemudian dicampur dengan serbuk kayu dan  setelah itu disiram air sekitar 50 – 60%. Jika rumpun tidak keluar dari air, itu berarti cukup air.

 

Pencampuran

 

  • Pengomposan

Bagian selanjutnya yaitu pengomposan. Bagian ini merupakan proses pelapukan bahan yang dilakukan dengan membuat campuran campuran serbuk gergaji dan kemudian menutupinya dengan plastik selama 1-2 hari, pengomposan ditandai dengan baik oleh peningkatan suhu hingga 50oC dengan keasaman pH 6-7.

 

  • Sterilisasi

Hal ini dilakukan untuk mengaktifkan mikroba, jamur, bakteri dan ragi. Sterilisasi dilakukan dengan memakai stereilizer. Sterilisasi dilakukan pada suhu 80-90oC selama 12 jam, dan setelah itu sterilisasi selesai.

  • Pengemasan

Pada bagian ini, pengemasan dilakukan dengan menggunakan plastik polypropylene (PP) dengan ukuran yang disesuaikan. Cara membungkus dalam pengemasan dilakukan dengan cara; memasukkan ke dalam kantong plastik dan setelah itu dipukul hingga padat dengan botol atau menggunakan pengisi (compactor) kemudian disimpan.

 

  • Inokulasi ( Pemberian bibit )

Setelah proses pengemasan selesai, hal selanjutnya yang dilakukan adalah Inokulasi. Inokulasi merupakan kegiatan memasukkan benih jamur ke dalam media jamur yang disterilkan. Kemudian baglog yang telah disimpan kemudian kita ambil dan taburkan biji di atasnya, menggunakan sendok. Takaran yang harus diperhatikan dalam pemberian bibit yaitu 3 sendok makan. Dari 3 sendok yang sudah disiapkan, kemudian diikat dengan karet dan ditutup dengan kapas.

Teman-teman bisa perhatikan, berikut ini bibit yang baik, yaitu:

  1. Varitas unggul
  2. Umur bibit optimal 45 – 60 hari
  3. Warna bibit merata
  4. Tidak terkontaminasi

 

  • Inkubasi (Masa Pertumbuhan Miselium )

Bagian selanjutnya yaitu Inkubasi. Hal ini dilakukan dengan menyimpannya di ruang inkubasi dalam kondisi tertentu. Inkubasi dilakukan sampai semua media putih terdistribusi secara merata, biasanya media akan muncul secara merata antara 40-60 hari.

 

panen

 

  • Panen

Bagian yang terakhir yaitu pemanenan. Pemanenan dilakukan setelah pertumbuhan jamur mencapai tingkat optimal atau maksimal. Panen biasanya dilakukan 5 hari setelah pertumbuhan jamur prospektif. Pemanenan ini harus dilakukan di pagi hari untuk menjaga kesegaran dan memfasilitasi pemasaran.

Terimakasih sudah membaca artikel ini. Jika kalian ingin membaca info yang lain silahkan kunjungi Fauna.co.id